IAIBAFA LAUNCHING MAQASHID CENTER JOMBANG

Pada hari Selasa, 14 Nopember 2017, Tim Kajian Maqashid Syariah IAIBAFA mengadakan Launching Maqashid Center Jombang bertempat di Kampus IAIBAFA Jombang. Acara ini diprakarsai oleh fakultas Syariah IAIBAFA dengan agenda pra launching berupa Seminar Maqashid Syariah yang diisi oleh narasumber seminar Dr. Holilurrohman, M. HI. (Dosen Fakultas Syariah UIN Sunan Ampel Surabaya dan Pegiat Maqashid Center Surabaya), H. Abd. Holik, M. HI. (Rektor IAIBAFA Jombang), Moh. Dliya’ul Chaq, M. HI. (Dekan Fakultas Syariah IAIBAFA Jombang) serta Moch. Nurcholis, M.H. (Kaprodi Ahwal Syakhshiyyah Fak. Syariah IAIBAFA Jombang). Panitia membatasi jumlah peserta dengan alasan agar seminar dapat benar-benar memberikan dampak yang riil terhadap peserta tidak sebagaimana seminar umumnya yang setelah berakhirnya acara, maka berakhir pula kajian tersebut.

Dalam acara seminar, H. Abd. Holik, M. HI menyatakan bahwa kajian-kajian yang bersifat pengembangan keilmuan harus terus dilakukan oleh akademisi, utamanya akademisi di lingkungan IAIBAFA Jombang. Memang, upaya reaktualisasi hukum Islam harus terus dilakukan, namun harus tetap berada pada koridor ilmiah dan sopan santun. Beliau menggambarkan dengan cerita, dalam beberapa hari yang lalu, beliau menghadiri acara di sebuah hotel yang dihadiri oleh para kyai. Pada saat itu, sempat ada usulan untuk menjama’ shalat dengan alasan sulitnya mengumpulkan peserta ketika peserta sudah kembali ke kamar hotel masing-masing. Usulan itu diperkuat dengan berbagai refrensi hukum Islam. Namun usulan tersebut tidak disetujui oleh peserta hanya karena Romo KH. Djamaluddin Ahmad, tokoh sufi yang hadir pada saat itu mengatakan “Apa susahnya shalat sebentar saja”. H. Abd. Holik, M. HI. melanjutkan bahwa hokum Islam akan lebih dipatuhi jika disampaikan oleh ahli hukum yang sufi. Oleh karenanya, Imam al-Syafi’I menganjurkan bahwa ahli fiqh seharusnya juga memperdalam tasawwuf (Faqihan wa Shufiyan Fa Kun Laysa Wahida).

Holilurrohman dalam seminar tersebut menyampaikan tentang sejarah dan kedudukan maqashid syariah dalam perkembangan hukum Islam. Ia menyatakan bahwa maqashid syariah memiliki kedudukan sebagai penentu hukum, sebagaimana illat dan maslahah. Bahkan, dalam kajian saat ini, pengkaji hukum Islam harus menyertakan maqashid syariah dalam kajiannya. Sekalipun maqashid ini menjadi teori baru yang saat ini paling diminati, bukan berarti maqashid menjadi metode yang digunakan untuk mencari yang paling mudah dalam hokum Islam atau rekayasa hokum (khilah). Tetapi maqashid syariah bertujuan untuk mencari maksud tuhan dalam hukum-hukum yang telah ada.

Moh. Dliya’ul Chaq melanjutkan bahwa seyogyanya kajian maqashid syariah saat ini lebih ditujukan untuk membangun dasar-dasar atau kaidah-kaidah maqashid syariah. Jika mengamati munculnya maqashid syariah, maka tidak jauh berbeda dengan kemunculan al-qawa’id al-fiqhiyyah yang bermula dari fiqh-fiqh yang telah ada kemudian muncul kaidah-kaidah fiqhiyyah. Maka sangat mungkin dengan fokus mengkaji fiqh dengan menggali maqashidnya, maka akan muncul kaidah-kaidah maqashid syariah yang dapat diaplikasikan secara praktis.

Moch. Nurcholis menyampaikan bahwa kajian maqashid syariah harus beriringan dengan ushul fiqh. Artinya, dasar-dasar untuk mempelajari maqashid adalah ushul fiqh. Maka tidak mungkin mempelajari maqashid syariah jika tidak memahami ushul fiqh.

Usai seminar, launching maqashid center Jombang dilaksanakan secara simbolis dipimpin oleh Dekan Fakultas Syariah. Terpilih sebagai Stering Commite adalah H. Abd. Holik sebagai ketua, Moh. Dliya’ul Chaq sebagai wakil bidang kajian dan Moch. Nurcholis sebagai wakil bidang Organisasi. Adapun ketua Organizing Commite adalah Ibtihajuddin, mahasiswa IAIBAFA. Agenda kegiatan maqashid syariah adalah mengadakan kajian-kajian maqashid baik di segala tingkat dan dengan melibatkan para ahli.