Menjadi seorang kiyai sama halnya menjadi seorang pendidik yang memiliki tugas membimbing, mendidik, sekaligus mengajarkan nilai nilai agama dan kehidupan. Tak hanya untuk para santrinya saja, namun menyeluruh ke seluruh kalangan masyarakat secara merata.

Pondok Pesantren Bahrul Ulum Bani Djamal pun juga terus turut berupaya dengan mengadakan berbagai macam kegiatan keislaman, salah satunya adalah pengajian rutin kitab Al-Hikam yang diampu langsung oleh yang terhormat KH Djamaluddin Aahmad tiap hari senin malam selasa ba’da isya. Pengajian tersebut selalu dipadati ratusan jamaah dari berbagai daerah di Jawa Timur dan para santri yang yang ikut mengaji. Namun karna keterbatasan waktu dan padatnya kegiatan yang harus tetap dijalankan, maka Abah Djamal akan menugaskan putranya atau menantunya untuk menggantikan saat ia berhalangan mengisi pengajian.

Pada tanggal 27 Januari 2020, KH Yahya Chusnan yang merupakan suami dari putri pertama Abah Djamal yaitu Ibu Nyai Ummi yang bertugas menggantikan mengisi pengajian KH. Yahya menjelaskan tentang betapa penting dan mulyanya ridho dari kedua orang tua kepada anak- anaknya. Ia juga menceritakan kisah sahabat bernama Al-Qomah, Ia adalah orang yang ahli ibadah namun ia tak mampu mengucapkan kalimat tauhid saat menemui sakaratul mautnya. Lalu Rasulallah menyuruh sahabat bilal mendatangkan dan menanyai dengan  jawaban jujur tentang Al-Qomah kepada orangtuanya, namun hanya tinggal ibunya yang masih hidup. Ibunya menjelaskan bahwa Al-Qomah adalah ahli shodaqoh, namun ia juga membenci Al-Qomah karena selalu memenangkan dan menaati istrinya ketimbang ibunya sendiri. Lalu Nabi menyuruh para sahabat untuk membakar Al-Qomah, seketika itu ibunya mencegahnya karena ia takkan mampu melihat buah hatinya dibakar di depan matanya sendiri. Kemudian Nabi menjelaskan bahwa siksa Allah di akhirat kelak akan lebih pedih karna Al-Qomah tidak mendapatkan ridho dari ibunya. Lalu ibunya bersedia memberikan maaf dan ridho pada anaknya, akhirnya Al-Qomah pun mampu mengucapkan kalimat tauhid dan wafat dengan tenang.

KH Yahya juga menjelaskan tentang keharusan adanya keseimbangan antara berbaktinya anak pada kedua orang tua dan orang tua yang meridhoi anak anaknya, jangan selelu menuntut anak untuk berbakti tanpa disertai ridhonya orang tua agar amal ibadah anak dapat diterima oleh Allah swt. *Benci seorang ibu pada anak dapat mengunci lisan anak menyebut Allah apalagi Lailahaillallah, mugo jembarno dodone, dadio wong tuwo sek akeh dongakno anake* ucap  pengasuh PP Al- Mardliyyah.

Saking mulianya birul walidain, Allah setarakan dengan beribadah kepadanya yaitu ridho Allah bersama dengan ridhonya orang tua. *maka ketika kita menghendaki hidup sukses dan rizki  yang barokah,maka jangan pernah lupa untuk selalu mendoakan kedua orang tua dan jangapernah melontarkan ucapan yang jelek terhadapnya, apalagi sampai menyakiti hatinya *tambahnya.

KH Yahya juga memberikan tata cara minta maaf dan minta ridho juga birul walidain ketika orang tua sudah tiada yaitu ;

1.Seorang anak hendaknya selalu berusaha menjadi orang yang sholih,seperti beribadah dengan sungguh-sungguh ,rajin jamaah, baca quran dll.

2.Selalu memohonkan ampunan untuk kedua orang tua di setiap wiridnya selepas sholat.

3.Melaksanakan janji-janji dan keinginan orang tua yang belum terpenuhi.

4.Selalu menjaga dengan baik hubungan silaturahmi kepada kluarga dan teman teman orang tua.

5.Beshodaqoh dan niatkan pahala kepada orang tua.

 

Rasul juga pernah berpesan kepada kaum muhajirin dan kaum ansor  *Siapapun orangnya yang  mengutamakan istrinya sampai menyakiti hati orang tuanya akan di laknat oleh Allah,walaupun selalu beribadah fardhu dan sunnah sekalipun tidak akan diterima Allah*.

*Allah mewajibkan jangan sampai menyembah selain Allah dan berbakti dengan berbuat baik kepada kedua orang tua karna itu adah kewajiban seorang hamba dan anak*pungkasnya.

Naily Ulya